Selasa, 14 Juni 2011

Laporan Tetap Praktikum Kimia ANORGANIK II


LAPORAN TETAP PRAKTIKUM
“ANORGANIK II”
DISUSUN :
Muhammad Junaiddin
G1C 008 024

PROGRAM STUDY KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS MATARAM
2010
KATA PENGANTAR

            Segala puji bagi Allah SWT. yang telah memberikan kami nikmat kesehatan dan ilmu pengetahuan sehingga kami dapat membuat laporan tetap praktikum Anorganik II ini. Laporan ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian akhir semester untuk mata kuliah Anorganik II. Adapun isi dari laporan ini adalah kumpulan dari laporan-laporan mingguan praktikum Anorganik II yang meliputi ; praktikum Pemurnian NaCl,Pembuatan AlK(SO4)2.12H2O, Kimia Mangan, Pembuatan Kristal CUSO4.5H2O dan Pembuatan garam Kompleks dan Garam rangkap dari tembaga. Kami sadar sebagai penulis bahwa tulisan ini tidak luput dari kekurangan, sehingga apabila ada kesalahan dalam laporan kami ini, mohon dimaklumi. Mengingat kami masih dalam proses pembelajaran dalam membuat laporan ini.

            Selamat membaca................


                                                                                              desember     2010-12-14
                                                                                              Hormat kami,



                                                                                              Penulis



PERCOBAAN 1
PEMURNIAN NaCl
A.      PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1.      Tujuan Praktikum    : Memahami prinsip pemurnian dan pengkristalan garam NaCl
2.      Waktu Praktikum    : Senin,08 november 2010
3.       Tempat Praktikum  : Laboratorium kimia dasar,lantai III,fakultas MIPA, Universitas                                      Mataram
B.      LANDASAN TEORI
Keelektronegatifan atom Na dan Cl dalam skala pauling adalah 0,93 dan 3,16. Perbedan keelektronegatifan antara kedua atom ini adalah 2,23. Dengan demikian NaCl merupakan senyawa ionik yang terdiri dari ion Na+ dan Cl- . kisi Kristal NaCl adalah kubus berpusat muka.susunan kubus berpusat muka ditunjukkan dengan adanya ion-ion Cl- yang tedapat dipojok-pojok dan dipusat muka kubus begitupun sebalikya untuk ion Na+. jumlah sel satuan dalam jumlah spesies NaCl dalam sel satuan adalah 4 buah untuk Kristal NaCl, sel satuan untuk origin ion Na+ atau Cl- akan mengandung jumlah spesies NaCl yang sama. Didalam Kristal ionic,banyaknya anion yang mengelilingi kation dengan jarak yang sama merupakan bilangan koodinasi dari kation, sebaliknya banyaknya kation yang mengelilingi anion dengan jarak yang sama merupakan bilangan koordinasi yang sama (Effendy,2008:17-18).
Litium dan natrium dapat diperoleh dengan elektrolisis garam leburan atau eutetik bertitik leleh rendah seperti CaCl2+NaCl, karena titik lelehnya rendah dan mudah menguap K,Rb,Cs dan Fr tidak dapat dibuat dengan elektrolisis. Garam-garam logam alkali umumnya dicirikan oleh titik lelehnya yang tinggi,oleh hantaran listrik lelehannya dan kemudahannya larut dalam air. Mereka kadang-kadang terhidrasi bilamana anion-anionnya kecil,seperti dalam halide karena energy hidrasi ion-ion tersebut tidak cukup untuk mengimbangi energy yang diperlukan untuk mengimbangi energy yang diperlukan untuk memperluas kisi. Ion-ion Na juga mempunyai kelipatan empat hidrasi primer (Cotton,1989:251-256).
Natrium ditemukan secara luas sebagai NaCl dalam deposit garam dari air laut. Reduksi ion +1 logam alkali menjadi unsure netral secara umum tidak bias dilakukan dengan cara-cara kimia biasa,tetapi dapat dilakukan dengan mudah secara elektrolisis dari garam-garam netralnya,contoh
2NaCl(l)                            2Na(L) + Cl(l)
KCl(l) + Na(g)                     NaCl(g) + K(l)
Na adalah logam alkali yang paling penting secara ekonomi yang diperoleh dengan proses downs. Dalam proses ini ditambahkan CaCl2 untuk menurunkan temperatur operasi menjadi kira-kira 870K. rancangan sel elektrolisis dibuat khusus sehingga mecegah pembentukan kembali NaCl oleh penggabungan Na dan Cl2 (Jackson,2010).
C.      ALAT DAN BAHAN
1.      Alat
Ø  Gelas beker 100ml
Ø  Erlenmeyer 25ml
Ø  Mortar
Ø  Gelas ukur 50ml
Ø  Neraca analitik
Ø  Spatula
Ø  Corong Buchner
Ø  Tiang statif
Ø  Penyumbat berlubang
Ø  Pipet tetes
2.      Bahan
Ø  Garam dapur kotor
Ø  Asam sulfat pekat
Ø  aquadest
D.     SKEMA KERJA
1.          50 gr garam dapur
Dilarutkan sedikit-sedikit ke dalam 100 mL air

Terbentuk larutan jenuh

Dicatat massa garam yang dibutuhkan

2.           Larutan jenuh NaCl
Dialirkan gas HCl yang dibuat dengan mereaksikan garam dengan asam sulfat pekat

Terbentuk endapan
Disaring dengan corong Buchner
Dicuci dengan air dingin
Dikeringkan dalam oven
Ditimbang
Hasil

E.      HASIL PENGAMATAN
No.
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1
Garam dapur dilarutkan dalam 100 mL air
Terbentuk larutan NaCl jenuh, massa NaCl yang dibutuhkan yaitu 40,1 gram.
2
Gas HCl dialirkan ke larutan jenuh NaCl
Terbentuk butiran-butiran putih kecil. Tapi setelah dibiarkan sehari, dan larutan jenuh bercampur dengan garam di erlenmeyer lainnya.

F.       ANALISIS DATA
a.       Gambar
Keterangan:
1. Statif
2. Selang
3. Erlenmeyer
4. Garam dapur + H2SO4
5. Larutan NaCl jenuh
b.      Persamaan reaksi
NaCl(s) → NaCl(aq)
2NaCl(aq) + H2SO4 → Na2SO4 + 2HCl(g)

G.     PEMBAHASAN
Natrium klorida merupakan salah satu garam yang sangat dibutuhka oleh masyarakat banyak karena digunakan untuk penyedap rasa pada makanan dan sebagai garam yang dapat memenuhi kebiutuhan yodium, yang dimana kekurangan yodium dapat menyebabkan penyakit gondok. Secara kimia NaCl merupakan senyawa ionic yang dimana senyawa ionic merupakan senyawa yang mudah larut dalam air yang dapat membentuk kation dan anion,pada NaCl kationnya adalah Na+ dan anionnya adalah Cl-. NaCl biasanya dibuat dengan menguapakan air laut karena air laut merupakan sumber utama NaCl.
Pada praktikum ini langkah pertama yang dilakukan dengan menjenuhkan garam dapur kotor dengan menggunakan air, larutan jenuh adalah larutan yang sudah tidak bias melarutkan zat terlarut lagi yang biasanya ditandai dengan terbentuknya gelembung dan adanya Kristal dalam jumlah yang sedikit didasar larutan. Sebagaimana diketahui reaksi antara NaCl dengan air menghasilkan ion Na+ dan Cl-.
Perbedaan Keelektronegatifan atom Na dan Cl adalah 2,23 ini menunjukkan bahwa senyawa ini merupakan senyawa ion,tetapi cara mudah untuk mengetahui senyawa ion adalah dengan melihat atom penyusunnya yakni tersusun dari unsure logam dan non logam yang dimana pada natrium klorida ini natrium merupakan merupakan unsure logam sedangkan clorin non logam.
Langkah kedua yang dilakukan adalah dengan mengalirkan gas HCl kedalam larutan garam jenuh diatas dengan menggunakan statif dan penyumbat berlubang untuk mengalirkan gasnya, gas HCl dibuat dengan mereaksikan NaCl dengan asam sulfat yang produknya adalah gas HCl,proses pembentukan gas ini yakni asam sulfat berperan sebagai pengoksidasi NaCl sehingga ion H+  dari asam sulfat berikatan dengan ion Cl- yang ada pada NaCl yang kemudian langsung dialirkan kedalam larautan NaCl jenuh yang dimana gas ini langsung membentuk Kristal NaCl murni karena gas ini langsung bereaksi dengan kation-kation Na+ yang ada pada larutan NaCl jenuh tersebut sehingga kation H+ yang ada pada gas ini terlepas sehingga terbentuk NaBl murni.
Dari hasil pengamatan ternyata didapat Kristal murni meskipun tidak sebanyak yang diharapkan tetapi paling tidak pada percobaan ini dapat diamati pembentukan Kristal didalam larutan NaCl yang sangat indah,tetapi dari hasil perbandingan dengan kelompok lain ternyata kelompok lain banyak mengalami kegagalan,hal ini kemungkinan disebabkan karena penyumbat berlubang yang bocor dan pemakaian asam sulfat yang terlalu sedikit sehingga gas HClnya pun tidak bisa masuk kedalam larutan NaCl jenuh sehinggqa Kristal tidak dapat terbentuk dan ketika disaring tidak mendapatkan Kristal murni.     
H.    KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan,analisis data dan pembahasan maka dapat disismpulkan bahwa :
1.      NaCl merupakan senyawa ionic yang apabila direaksikan dengan air akan terhidrolisis menjadi ion Na+ da Cl-
2.      Larutan jenuh merupakan larutan yang sudah tidak bisa lagi melarutkan zat terlarut karena pelarutnya sudah stabil
3.      Struktur dari NaCl adalah kubus berpusat muka
4.      Kristal NaCl murni dapat dibuat dengan mengalirkan gas HCl kedalam larutan NaCl jenuh
5.      Kristal NaCl murni merupakan hasil reaksi antar ion Na+ yang ada pada larutan NaCl dengan ion Cl- yang ada pada HCl












DAFTAR PUSTAKA
Cotton dan Wilkinson.1989.Dasar Kimia Anorganik . Jakarta:UI-Press
Effendy. 2008.  Ikatan Ionik. Malang : Universitas Negeri Malang
Jackson. 2010 .  Diktat Kimia Anoganik 2. Mataram : Universitas Mataram













PERCOBAAN 2
PEMBUATAN ALUMINIUM KALIUM SULFAT
A.    PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1.      Tujuan           :
b.      Memahami beberapa aspek unsur  aluminium
c.       Memebuat tawas
2.      Hari,tanggal  : senini, 08 november 2010
3.      Waktu            : Laboratorium kimia dasar,lantai 3, fakultas MIPA, Universitas                                 Mataram    
B.     LANDASAN TEORI
Aluminium termasuk unsure yang banyak terdapat dikerak bumi yang ringan dan tahan karatsehingga banyak digunakan dalam dunia modern, seperti untuk pesawat terbang,kaleng aluminium dan alat rumah tangga. Daya hantar listrik logam ini cukup baik, sehingga digunakan sebagai bahan kabellistrik berukuran besar. Logan aluminium bersifat amfoter dapat bereaksi dengan asam dan basa (Syukri,1999:630-631).
Aluminium dibuat dalam skala besar dari bauksit,Al2O3.nH­2O (n= 1-3). Ia dimurnikan dengan pelarut NaOH akua dan diendapakan ulang  sebagai Al(OH)3 dengan menggunakan CO2. Hasil dehidrasi dilarutkan dalam lelehan kriyolit, dan lelehannya pada 800-1000 K dielektrolisis. Alumunimium adalah logam yang keras,kuat,dan berwarna putih. Meskipun sangat elektropositif tetapi tahan terhadap korosi karena lapisan oksida yang kuat dan liat terbentuk pada permukaannya. Lapisan aluminium, yaitu proses yang disebut anodirasi. Aluminium larut dalam asam mineral encer tetapi dipasifkan oleh HNO3 pekat. Bila pengaruh perlindungan lapisan oksida dirusakkan, misalnya dengan penggoresan atau dengan amalgamasi, penyerangan cepat oleh air sekalipun dengan terjadi. Logamnya mudah bereaksi oleh larutan NaOH panas,halogen dan berbagai logam (Cotton,1989:288).
Kekuatan Al  dapat ditingkatkan oleh alloy dengan Cu atau Mg. aluminium oksida memiliki banyak kegunaan yang paling penting. Corundum (a-aluminium) dan emery (corundum dicampur dengan besi oksida berupa magnetite dan haematetit) adalah dua zat yang sangat keras sehingga digunakan sebagai abrasive, berlian adalah satu-satunya mineral yang lebih keras dari korundum yang terdapat dialam. Batu alam (gamstone) termasuk ruby, shappire, oriental topaz, orreiental amethilist dan oriental emerald dihasilkan dari garam-garam logam dalam jumlah trase didalam AlO3 (Jackson,2010).
Larutan berair yang mengandung jumlah molar yang sama dari Al2(SO2)3 dan K2SO4 mengkristal menjadi kalium  aluminium sulfat KAl(SO4)2.12H2O. Garam ini dikenal dengan palas alum atau tawas alum mempunyai rumus M(1), M(111) SO4.12H2O dimana M(1) dapat berupa kation apa saja kecuali Li+ (Petruccy,1993:115).
C.     ALAT DAN BAHAN
1.      Alat
Ø  Gelas beker 250 ml
Ø  Hot plat
Ø  Gelas ukur 100ml
Ø  Neraca analitik
Ø  Spatula
Ø  Thermometer
Ø  Cawan penguapan
2.      Bahan
Ø  Al(SO4)2.18H2O
Ø  K2SO4
Ø  Aquadest
Ø  Kertas sring
D.    SKEMA KERJA
16,7 gr Al2(SO4)3.18H2O                                     4,35gr K2SO4
     Dilarutkan dlm 12,5 ml air                       dilarutkan dalam
                                       Dgn suhu 80 c                                          50ml air
                                                        Cawan penguapan 
-Didinginkan pd suhu kamar sampai terbentuk Kristal
-Dicuci dengan air
-Dikeringkan kertas saring
                                                                                   - ditimbang
                                                                          Hasil





E.     HASIL PENGAMATAN
         Perlakuan
Hasil
K2SO4 + air
Warna putih bening sukar larut
Al2(SO4)3 + air panas
Warna putih dan lebih cepat larut
Al2(SO4)3.18H2O + K2SO4
Warna putih dan terbentuk Kristal endapan putih
Tawas dicuci dan dikeringkan
Warna putih dan mengkristal

F.      ANALISIS DATA
1.      Persamaan reaksi
a.       Al2(SO4)3.18H2O(s) + H2O(l)                             Al2(SO4)3.18H2O (aq)
b.       Al2(SO4)3.18H2O(aq) + K2SO4(aq)                     Al2(SO4)3.12H2O (s)
2.      Perhitungan
Dik : berat   Al2(SO4)3.18H2O (s) = 16,74 gr 
                       Mr  = 666,17
         Berat K2SO4 = 4,35 gr     
     Berat kertas saring = 1,03 gr
     Berat tawas murni = 18,05 gr
a.       Mol Al2(SO4)3.18H2O
Mol = gr /mr
       = 16,74/666,74
       = 0,0251 mol
b.      Mol K2SO4
Mol = 4,35/174
       = 0,025 mol
Al2(SO4)3.18H2O(aq) + K2SO4(aq)                     Al2(SO4)3.12H2O (s)
     Mol mula2:          0,0251                   0,025                                     -
    Mol brx    :           0,025                    0,025                                0,05
                                0,0001                       -                                     0,05
c.       Mol AlK(SO4)3.12H2O = 0,05 mol
gr = Mr . mol
    = 474 . 0,05
    = 23, 4 gr (gr teori)
d.      % rendamen AlK(SO4)3.12H2O
Berat tawas murni    . 100%                
 Berat tawas teori
= 18,05/23,7
= 0,7616 . 100%
= 76,16 %
G.    PEMBAHASAN
Aluminium merupakan unsure golongan ketiga yang termasuk unsur yang paling penting secara komersial dengan kegunaannya yang jauh melebihi kegunaan semua logam kecuali besi, aluminium memiliki sifat yang unik yakni sifatnya mirip boron yakni non logam padahal aluminium merupakan logam. Unsur ini banyak digunakanpada zaman sekarang ini sebagai wadah makanan dan minuman karena sifatnya tahan terhadap korosi karena memiliki energy pasifasi pada permukaan logamnya. Aluminium merupakan salah satu komponen pembuatan tawas yang  dipraktikum pada acara ini.
Pada praktikum pembuatan tawas ini bahan yang digunakan adalah Al2(SO4)2.18H2O yang dilarutkan dalam air yang memilki suhu 80 c. ini dilakukan karena Al2(SO4)2.18H2O merupakan zat padat yang sukar larut dalam air pada suhu kamar. Pada prinsipnya untuk melarutkan suatu zat padat yang sukar larut maka pelarutnya diberikan energy kalor sehingga tabrakan antara partikel-partikel pereaksi semakin tinggi sehingga ketidakteraturannya semakin besar sehingga terjadilah reaksi (syukri,1999).
Pereaksi yang digunakan pada pembuatan tawas ini adalah K2SO4 yang dilarutkan dalam dalam air biasa dengan suhu kamar. Perdasarkan percobaan ternyata K2SO4 sangat lama larutnya dalam air kira-kira satu jam ini disebabkan karena energy yang ada pada air pada suhu kamar sangat rendah sehingga diperlukan waktu untuk melarutkan K2SO4. Cara yang digunakan untuk mempercepat kelarutannya yakni dengan menggerus atau mengaduknya secara konstan sehingga tabrakan partikel dan ketidak teraturan semakin tinggi sehingga terjadilah reaksi seperti prinsip diatas.
Selanjutnya larutanh Al2(SO4)2.18H2O pada suhu 80 c direaksikan dengan K2SO4 aquous dan dari hasil pengamatan terbentuk Kristal-kristal yang cantik yang dikenal dengan nama tawas. Tawas merupakan salah satu garam okso yang karakteristik octahedral yang dimana Alnya dapat diganti dengan Fe(KFe(SO4)2.12H2O) yang berwarna ungu yang disebabkan oleh adanya ion [Fe(H2O)]3+ dan dalam semua alum (Jackson,2010).
Kalau dilihat dari rumus kimianya, tawas merupakan senyawa terhidrasi karna pada awalnya memiliki 18H2O menjadi 12H2O, jadi maksud terhidrasi adalah kehilangan molekul air.
Untuk mendapatkan Kristal tawas yang yang cantik maka pada saat pereaksian larutan Al2(SO4)2.18H2O 80 c dengan K2SO4 direaksikan benar-benar pada suhu 80 c didalam gelas beker karena pada suhu tersebut terdapat banyak energy sehingga kristalnya dapat terbentuk. Selanjutnya untuk mendapatkan Kristal murni maka tawas ini dikering anginkan untuk  menghilangkan airnya selanjutnya dicuci dandisaring dengan kertas saring. Alumunium sulfat digunakan digunakan untuk memurnikan air yang dimana fungsinya adalah untuk mengikat fosfat dan zat-zatkolodial dan menurut hasil penelitian dalam bidang kesehatan pemasukan garam-garam Al kedalam tubuh manusia diduga dapat menyebabkan penyakit alzeimer.
H.    KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan, analisis data dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa
1.      Aluminium merupakan unsure yang tahan terhadap korosi karena memiliki energy pasifasi
2.      Untuk mempercepat kelarutan suatu zat dapat dilakukan dengan cara pengadukan dan pemanasan
3.      Untuk menghasilkan Kristal tawas murni maka pereaksian  Al2(SO4)2.18H2O dengan K2SO4 benar-benar bersuhu 80 c
4.      Garam-garam alumunium merupakan senyawa terhidrasi seprti tawas
5.      Al2(SO4)2.18H2O biasanya digunakan untuk mengikat posfat dan zat pengotor pada air

DAFTAR PUSTAKA
Cotton dan Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: Erlangga
Jackson.2010. Dikta Kimia Anorganik 2. Mataram: Universitas Mataram
Suminar,Petrucy. 1993. Kimia Dasar 1. Jakarta : Erlangga
Syukri,S. 1999. Kimia Dasar 1. Bandung : ITB

















PERCOBAAN 3
KIMIA MANGAN (Mn)
A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1.   Tujuan : Mempelajari pembuatan senyawa mangan (V1), Mangan (111) dan sifat-sifatnya
2.   Waktu  : Kamis, 18 november 2010
3.   Tempat : laboratorium kimia dasar, lantai 3 , fakultas MIPA, Universitas Mataram
B. LANDASAN TEORI
      Tingkat oksidasi tertinggi bagi mangan sesuai dengan jumlah total electron 3d dan 4s, tetapi hanya terjadi dalam senyawaan okso MnO4-,MnO7 dan MnO3F. Senyawaan-senyawaan ini menunjukkan beberapa kemiripan dengan senyawa halogen ang sesuai. Mangan relatif melimpah dan terdapat dalam banak deposit, terutama oksida, oksida hidrat dean karbonat. Ion mangan diperoleh dengan oksida elektrolitik atau oksodasi persulfat laruan Mn2+, atau dengan radiasi MnO4-. Zat tersebut tidak bisa didapat dalam konsetrasi yang tinggi karena direduksi oleh air, ia juga cenderung terhidrolisis dan terdisproporsionasi dalam larutan asam lemah. Mangan (1V) hanya dikenal dengan ion manganat MnO2- ang benar-benar hijau. Ion manganat hanya stabil dalam larutan yang amat basa, karena ia mudah terdisproporsionasi (Cotton, 1989 :458-451)
      Kalium permanganat telah banyak digunakan sebagai agen pengoksidasi selama lebih dari 100 tahun. Permanganate telah banyak mengalami reaksi kimia, karena mangan dapat digunakan dalam kondisi-kondisi oksidasi +2,+3,+4,+6 dan +7. Reaksi yang paling umum ditemukan dalam laboratorium adalah reaksi yang terjadi dalam larutan-larutan yang bersifat sangat asam atau 0,1 N atau lebih besar.
                        MnO4- + H+ + 5e                  Mn2+ + 4H2O
Permanganat bereaksi cepat dengan banyak pereduksi berdasarkan reaksi ini, namun substansi banak membutuhkan pemanasan dan penambahan katalis untuk mempercepat reaksi. Larutan permanganat ang bersifat asam tidak stabil karena asam pemanganat terdekomposisi sesuai dengan persamaan
               4MnO4- + 4H+                       4MnO2 + 3O2 + 2H2O
Ini adalah sebuah reaksi lambat didalam larutan-larutan encer pula suhu ruangan (Underwood,1999: 290).
      Kegunaan utama mangan adalah pada industry baja misalnya, pembuatan alloy ferromanganese (80% mangan) ang dilakukan dengan mencampur pyrolusite dengan Fe2O3 dan kemudian direduksi dengan karbon. Hampir semua baja mengandung Mn, ada yang hingga 12% yang termasuk dalam baja sangat tahan terhadap kejutan dan tahan lama digunakan sehingga cocok untuk peralatan atau mesin-mesin cruching, grinding dan excavating. Mn (1V) oksida digunakan dalam baterai kering. Oleh karena daya oksidasinya kuat, menjadikan KMnO4 adalah bahan yang penting. Mn adalah unsur ang esensial dalam jumlah trace bagi tanaman MnSO4 dalam jumlah kecil ditambahkan kedalam pupuk. Sumber utama ang lain dari mangan adalah pyrolusite, didasar laut ditemukan nodul-nodul logam yang mengandung hingga 24% Mn. Produksi logam mangan dilakukan dengan cara elektrolisis larutan MnSO4 (Jackson,2010).       
C. ALAT DAN BAHAN
1.   Alat
·         Tabung reaksi
·         Gelas kimia 100ml
·         Rak tabung
·         Corong
·         Neraca analitik
·         Pipet volume
·         Pipet tetes
2.   Bahan
·         KMnO4 0,1M
·         KMnO4 0,01M
·         NaOH 2M
·         H2SO4 1M
·         MnO2
·         MnSO4
·         H2SO4 pekat
·         Aquadest
·         Kertas saring



D. SKEMA KERJA
1. untuk mangan (1V)
Masing2 10ml KMnO4 0,01M
                                                                                                        
  
Tabung 1                                                                                tabung 2
       + 5ml H2SO4                                                                                + 5ml NaOH
      + sedikit MnO2                                                                                                       + sedikit MnO4
        -Dikocok 2 menit                                                                        dikocok 2 menit   
        -disaring                                                                                      disaring
Hasil 1                                                                                       hasil 2
Larutan yang berwarna hijau 
                                                       + H2SO4
                            -dicatatat apa yang terjadi
                                              Mangan (1V)                              
2. untuk mangan (111)
            0,5 gram MnSO4
+ 2 mL H2SO4 encer
+ 10 tetes H2SO4 pekat
Hasil
Didinginkan dengan air dingin
+ 5 tetes KMnO4 0,1 M
Hasil
+ 50 mL air
Hasil

E. HASIL PENGAMATAN
1.      Pembuatan senyawa mangan (VI)
No.
Percobaan
Hasil Pengamatan
1
tabung reaksi 1
KMnO4 0,01 M ditambahkan asam sulfat encer dan MnO2
Larutan dikocok 2 menit
Larutan disaring

Tidak terjadi perubahan warna, larutan tetap ungu
Terbentuk endapan coklat tua
Dihasilkan larutan pink
2
tabung reaksi 2
KMnO4 0,01 M ditambahkan NaOH encer dan MnO2
Larutan dikocok 2 menit
Larutan disaring
Filtrat ditambahkan asam sulfat encer

Tidak terjadi perubahan warna, larutan tetap ungu
Terbentuk endapan coklat tua
Dihasilkan larutan hijau
Warna larutan di bagian atas merah, di bawah hijau. Setelah dikocok larutan kembali hijau. Jika terus ditambahkan asam warna larutan kembali menjadi ungu tua.

2.      Pembuatan senyawa mangan (III)
No.
Percobaan
Hasil Pengamatan
1
MnSO4 ditambahkan asam sulfat encer
Terbentuk larutan keruh dengan endapan
2
Larutan ditambahkan 10 tetes asam sulfat pekat
Warna larutan tambah keruh, ada endapan putih
3
Larutan ditambah KMnO4 0,1 M
Warna larutan ungu tua, endapan putih
4
Larutan ditambah 50 mL air
Warna larutan hijau-kecoklatan, ada endapan coklat


F. ANALISIS DATA
Persamaan reaksi :
1.    Uji Ramalan Mangnan III
·      MnSO4 + H2SO4              →  MnSO4 + H2SO4
·      MnSO4 + KMnO4            →  K2SO4 + MnO4- + Mn3+
·      4 Mn3+ + 5 MnO4- + 8H+   →  4 MnO4- + 5 Mn3+ + 4 H2O
2.    Uji Ramalan Mangan IV
a)    Suasana Basa
·      KMnO4 + NaOH    →  MnO4- + Na+ + KOH
·      MnO4- + MnO2      → MnO42- + MnO2
·      2MnO4- + 3MnO2 + 2H2O   → 3MnO42- + 2MnO2 + 4H+
b)   Suasana Asam
·      KMnO4 + H2SO4                        → K2SO4 + MnO2 + H2O
·      4MnO4- + MnO2 + 2H2O   → 5MnO42- + 4H+
·      3MnO42- + 4H+                 →  2MnO4- + MnO2 + 2H2O

G. PEMBAHASAN
           Mangan merupakan salah satu golongan B yang memiliki nlok d yang pada dasarnya sifat logam adalah keras,dapat ditempa dan menghantarkan arus listrik. Mangan memiliki banyak kegunaan diantaranya adalah pada industry baja dan pada peralatan-peralatan elektronik. Konfigurasi Mn adalah 3d 4s sehingga pada dasarnya memiliki muatan +2 tetapi secara umum mangan dapat membentuk Mn3+,Mn4+,Mn6+ dan Mn7+. Salah satu senyawa mangan yang besar kegunaan dan popular dalam laboratorium adalah kalium permanganate (KMnO4).KMnO4 biasanya digunakan sebagai agen pengoksidasi sehingga bereaksi dengan banyak agen pereduksi. Tetapi banyak reaksi permanganat yang berjalan lambat sehingga reaksinya menggunakan pemanasan dan dengan bantuan katalis.
           Prakatikum kali ini yakni uji mangan, dimana pada percobaan ini yang dilakukan hanya mangan (111) ini dilakukan dengan mereaksikan MnSO4 dengan H2SO4 encer, tujuannya adalah untuk mendisproporsionasi  MnSO4. Disproporsionasi adalah reaksi yangmenghasilkan 2 mangan yang memiliki muatan-muatan yang berbeda-bedasehingga biloksnya berbeda, hasil produknya adalah Mn2+ dan MnO2, kemudian setelah ditambahkan H2SO4 pekat maka berubah menjadi Mn3+ ini disebabkan karena asam sulfat pekat merupakan pengoksidasi yang baik, sehingga dapat mengoksidasi Mn2+ menjadi Mn3+. Sedangkan untuk MnO2 pada dasarnya merupakan senyawa yang inert terhadap kebanyakan asam kecuali jika dipanaskan, sehingga biasanya mangan oksida digunakan sebagai pengosidasi. Pruduk setelah penambahan H2SO4 pekat adalah menghasilakan kalor sehingga harus didinginkan. Ini disebabkan karena sifat dari asam sulfat itu sendiri, selanjutnya setelah didinginkan larutan ini dieraksikan dengan air dan hasilnya adalah perubahan warna yang segnifikan yakni dari warna pink menjadi warna hitam kecoklatan ini disebabkan karena Mn(111) sangat mudah dioksidassi oleh air (Cotton,1989).
           Selanjutnya untuk percobaan Mn(V1) dilakukan dengan mereaksikan kMnO4 dengan asam dan basa. Pada percobaan yang pertama yakni denagn asam ternyata larutan berwarna ungu ini menunjukkan KMnO4 tidak stabil dalam keadaan asam sehingga menghasilkan ion permanganat selanjutnya ditambah MnO2 untuk mengoksidasi ion permanganat, oksidasi ini dinamakan oksidasi elektrolitik. Selanjutnya larutan ini dikocok dan disaring. Sedangkan untuk percobaan yang kedua dengan larutan basa ternyata dihasilkan warna hijau ini disebabkan ion permanganat stabil dalam keadaan basa, selanjutnya larutan ini dioksidasi dengan asam encer sesuai karena sifat mangan yakni dapat tereduksi dengan asam lemah hingga menghasilkan 2 wana yakni atas merah dan bawah hijau yang hijau ini merupakan mangan (V1).
I.       KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan, analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:
1.    Mangan (111) dapat dengan mudah teroksidasi olrh air
2.    Mangan memiliki banyak biloks diantaranya +2,+3,+4,+6 dan +7 tergantung unsur atau senyawa apa yang berikatan dengannya
3.    Mangan dioksida berfungsi sebagai pengoksidasi tetapi tetapi dapat bereaksi secara inert juga
4.    Ion permanganat stabil dalam keadaan asam ditandai dengan warna yang tetap atau tidak berubahtetapi stabil dalam keadaan basa karenaberubah menjadi hijau








DAFTAR PUSTAKA
Cotton dan Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta : Erlangga
Day,R.A dan Undewood. 2001. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta : Erlangga
Jakson. 2010. Ringkasan Kimia Anorganik 2. Mataram : Universitas Mataram



















  
PERCOBAAN 4
PEMBUATAN KRISTAL TEMBAGA (11) SULFAT
A.    PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1.                     Tujuan                   :
a.    Membuat dan mengenal sifat Kristal tembaga (II) sulfat.
b.   Memahami proses pembentukan Kristal.
2.                     Hari, tanggal         : Kamis, 25 November 2010.
3.                     Tempat                 : Laboratorium Kimia Dasar,lantai 3, Fakultas MIPA Universitas                                    Mataram.

B.     LANDASAN TEORI
Tembaga memiliki electron s tunggal diluar kulit 3d yang terisi. Ini agak kurang umum dengan golongan alkali kecuali stoikiometri formal dalam tingkat oksidasi +1. Tembaga tidak menambah (55 ppm) namun terdistribusi secara luas sebagai logam, dalam sulfide, arsenide, klorida dan karbonat. Mineral yang paling umum adalah chalcopyisite CuFeS2-tembaga diekstraksi dengan pemanggangan dan peleburan oksidatif atau dengan pencucian dengan bantuan mikroba, ang diikuti oleh elektrodeposisi dari larutan sulfat. Tembaga mudah bereaksi atau larut dalam larutan asam sitrat dan  dalam asam sulfat pekatdengan adanya oksigen seperti dicirikan dengan potensialnya
                  Cu + 2NH3      -0,12v           [Cu(NH3)2]+   0,01v      [Cu(NH3)4]2+
                                                                                                   (Cotton,1989 : 477-478).
Garam-garam tembaga (II) umumnya berwarna biru, baik dalam bentuk hidrat, padat, maupun dalam larutan air, warna ini benar-benar khas untuk ion tetraakuokuprat(II) saja. Batas terlihatnya warna ion kompleks tetraakuokuprat(II) adalah 500 mikrogram dalam batas konsentrasi 1 dalam 104. Garam-garam tembaga(II) anhidrat, seperti tembaga(II) sulfat anhidrat CuSO4 berwara putih (Keenan, 1992).
Tembaga (II) sulfat merupakan padatan kristal biru dengan struktur kristal triklin. Pentahidratnya kehilangan kelima molekul air pada suhu yang berbeda. CcuSO4.5H2O dibuat dengan mereaksikan CuO atau CuCO3 dengan H2SO4 encer atau dengan mereaksikan Cu dengan H2SO4 pekat dan memanaskan larutn hingga jenuh. Pada skala industri dibuat dengan memompa udara melalui campuran tembaga panas dengan H2SO4 encer (Petrucci, 1987).
Secara umum garam tembag (I) tidak larut dalam air dan tidak berwarna sedangkan garam-garam tembaga (II) umumnya berwarna birubaik dlam bentuk hidrat padat mupun dalam larutan air yang berbentuk ion tetrakuokuprat (II) [Cu(H2O)4]2+. Batas terlihatnya warna ion kompleks tersebut dalah 500 μg. Dalam batas konsentrasi 1 dalam 104 (Dickey, 1972).

C.     ALAT DAN BAHAN
1.      Alat:
a.       Gelas kimia 250 mL
b.      Pengaduk
c.       Pemanas listrik
d.      Pipet volume
e.       Corong
f.       Gelas ukur
g.      Timbangan analitik
h.      Pipet tetes

2.      Bahan
a.       Aquades
b.      Asam sulfat pekat
c.       Kepingan tembaga
d.      Asam nitrat pekat
e.       Kertas saring

D.    SKEMA KERJA
                                25 mL air
+ 4,25 mL H2SO4 pekat
+ 2,5 gr tembaga
+ 6,25 mL HNO3 pekat
Diaduk
Dipanaskan
Hasil




Hasil
Disaring saat panas
Filtrat
Disimpan
Kristal
Dicuci dengan sedikit air
Dilarutkan ke sedikit air
Dikristalkan kembali
Hasil


E.     HASIL PENGAMATAN
No.
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1
Air ditambahkan asam sulfat pekat dan tembaga
Tidak terjadi perubahan
2
Ditambahkan asam nitrat pekat lalu diaduk
Warna larutan jadi biru, sedangkan warna tembaga menjadi abu-abu, muncul gas coklat
3
Larutan dipanaskan dan terus diaduk
Lama kelamaan semua tembaga larut dan warna larutan menjadi semakin tua. Setelah cukup lama, muncul gas putih.
4
Larutan disaring
Dihasilkan larutan biru, mulai terbentuk kristal berwarna biru berbentuk jarum kecil
5
Kristal disaring, dicuci, dan dikeringkan
Kristal biru yang awalnya terpisah, menempel satu sama lain setelah dikeringkan. Berat kertas saring 1,04 gram. Berat kertas saring + endapan 5,23 gram.

F.      ANALISIS DATA
1.      Persamaan reaksi
H2SO4 + H2O → H3O+ + HSO4-
3Cu + 8H+ + 2 NO3- → 3Cu2+ + 2NO + 4H2O
2NO + O2 → 2NO2
2Cu + 2H2SO4 + O2 → 2CuSO4.5H2O

2.      Perhitungan
Massa kristal + massa kertas saring           = 5,23 gram
Massa kertas saring           = 1,04 gram
Massa kristal                     = 5,23 – 1,04
                                          = 4,19 gram
           
mol Cu
=
mol CuSO4.5H2O
=
=
m CuSO4.5H2O
=
9,817 gram

= 42,68 %


G.  PEMBAHASAN
Pada praktikum ini, pembuatan temabga (II) sulfat pentahidrat CuSO4.5H2O dibuat dengan mereaksikan logam tembag dengan H2SO4 pekat. Tujuan penambahan asam nitrat pekat adalah untuk mengaktifkan logam tembaga agar bereaksi dengan asam sulfat dengan cepat. Dengan penambahan asam nitrat logam tembaga melarut dengan warna larutan biru keruh disertai uap atau gas berwarna coklat yaitu gas NO. dalam hal ini diperlukan pengadukan larutan yang cukup lama untuk memaksimalkan tumbukan antar molekul agar reaksi berjalan dengan cepat. Pengaktifan Cu dengan asam nitrat akan merubah logam Cu (padatan) menjadi larutan tembaga (II) nitrat dengan pembebasan gas NO berdasarkan reaksi
3Cu + 8HNO3 → 3Cu2+  + 6 NO3- + NO↑ + 4H2O
Dengan diubahnya padatan cu menjadi larutan tembaga nitrat menyebabkan kerapatan atom Cu mengecil dengan energi kinetik yang semakin besar menyebabkan tumbukan semakin bnyak sehingga mempercepat reaksi Cu dengan H2SO4 pekat yang  menghasilkan tembaga (II) sulfat pentahidrat CuSO4.5H2O (Keenan, 1992).
Gelembung pada lautan merupakan gas NO dengan uap berwarna coklat. Sedangkan pemanasan laryutan bertujuan untuk mempercepat proses reaksi dengan adanya peningkatan tumbukan oleh pemanasan. Selain itu, tujuan pemanasan larutan adalah untuk memperbesar hasil kali ion-ionnya dan memperkecil hasil kali kelarutan (Ksp) untuk membentuk kristal garam tembaga (II) ulfat pentahidrat (Annisa Syabatini, 2009).
Penyaringan larutan dilakukan dalam keadaan larutan panas untuk memperoleh endapan kristal tanpa pengotor, endapan dibilas dengan aquades untuk membebaskan nitrat sehingga diperoleh endapan CuSO4.5H2O  berwarna biru tua dengan tahapan reaksi
Cu(NO3) +  H2SO4  → CuSO4 + 2 HNO3

CuSO4 + 5 H2O → CuSO4.5H2O
Dalam bentuk pentahidrat, setiap ion tembaga (II) dikelilingi oleh empat molekul air pda setiap sudut segi empat, kedudukan kelima dan keenam dari oktahedral ditempati oleh atom oksigen dan anion sulfat, sedangkan molekul air kelima terikat oleh ikatan hidrogen (Svehla, 1990), sehingga molekul H2O kelima tidak terikat langsung oleh ion tembaga (Cotton dan Wilkinson, 2007).
Dalam proses pembentukan tembaga (II) sulfat pentahidrat CuSO4.5H2O , reaksi yang terjadi secara lengkap adalah
Cu + 3H2O + H2SO4  + 2HNO3 → CuSO4 (aq) +NO↑ + 5 H2O
Berdasarkan praktikum yang dilakukan diperoleh massa kristal tembaga (II) sulfat pentahidrat sebesar 4,19 gr. Sedangkan menurut perhitungan massa kristal tembaga (II) sulfat pentahidrat sebesar 9,817 gr sehingga rendemen yang didapatkan sebesar 42,16%. Semakin besar nilai rendemen maka percobaan yang dilakukan semakin baik. Perolehan nilai rendemen yang kecil disebabkan katrena kekurangtelitian praktikan dalam proses pembuatan tembaga (II) sulfat pentahidrat sehingga masih banyak pengotor yang menghambat terjadinya pembentukan kristal.


H.  KESIMPULAN
    Berdasarkan hasil pengamatan, analisis data dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa :
1.   Pembuatan kristal tembaga (II) sulfat pentahidrat dapat dilakukan dengan mereaksikan logam tembaga dengan asam sulfat pekat dengan pengaktif asam nitrat pekat.
2.   CuSO4.5H2O merupakan kristal berwarna biru dimana setiap ion tembaga dikelilingi oleh empat molekul air pada sudut segiempat, kedudukan kelima dan keenam dari oktahedral ditempati oleh atom oksigen dari anion sulfat sedangkan molekul air kelima diikat dengan pembentukan ikatan hidrogen.
3.   Berdasarkan percobaan yang dilakukan diperoleh rendemen dari kristal CuSO4.5H2O sebesar 42,68 %.


















DAFTAR PUSTAKA

Cotton dan Wilkinson. 2009. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: UI press.
Dickey, R. D. 1972. Identification and Corection of Copper deficiency of Rododendion Shimsi ‘George Lindley Taber Cutting.http//www.google.com
Keenan, Kleinfelter. 1992. Kimia Untuk Universitas. Jakarta: Erlangga.
Petrucci, Ralph. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern. Jakarta: Erlangga.
Svehla, G. 1990. Analisis Organik Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta: PT Kalman Media Pustaka.
Syahbatini, Annisa. 2010. Pembuatan Tembaga (II) Sulfat Pentahidrat.http//www.google.com. Annisa funshie’s weblog.htm.











ACARA  5
PEMBUATAN GARAM GARAM KOMPLEKS DAN DAN GARAM RANGKAP DARI TEMBAGA
A.    PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1.      Tujuan praktikum: - membuat dan mengenal garam rangkap tembaga (11) ammonium                                             sulfat heksahidrat CuSO4(HH4)2SO4
     -membuat dan memeriksa sifat garam kompleks tetraamino                            tembaga (11) sulfat monohidarat,[Cu(NH3)2 ]SO4.. H2O
2.      Waktu pelaksanaan: Senin, 29 november 2010
3.       Tempat pelaksanaan: laboratorium kimia dasar, lantai 3, fakultas MIPA, Universitas                                  Mataram
B.     LANDASAN TEORI
Pelarutan tembaga, hidroksida,karbonat dan sebagainya dalam asam menghasilkan ion akuo hijau kebiruan yang dapat ditulis [Cu(H2O)6]2+. Dua molekul-molekul H2O berada lebih jauh dari pada tempat lainnya. Dantara berbagai hidrat lainnya CuSO4.5H2O yang paling dikenal. Ia dapat terhidrasi menjadi anhidrat yang benar-benar putih. Penambahan ligan terhadap logam aqua menyebabkan pembentukan kompleks dengan pertukaran molekul air secara berurutan, misalnya dengan amonia namun penambahan molekul amonia yang kelima dan keenam sulit. Molekul keenam dapat ditambah hanya dalam cairan amonia,alasan ini untuk prilaku lazim ini dihubungkan dengan efek john- teller, karenanya ion Cu 2+ tidak mengikat ligan kelima dan keenam secara kuatmeskipun ada H2O (Cotton, 1989 : 481).
Garam rangkap dalam larutan akan terionisasi menjadi ion-ion komponennya. Garam kompleks berbeda dengan garam rangkap. Salah satu tipe reaksi kimia yang dapat merupakan dasar penetapan titrimetri, mencakup pembentukan kompleks atau ion kompleks yang larut namun sedikit sekali terdisosiasi. Salah satu contoh adalah reaksi ion perak dengan ion sianida untuk membentuk ion kompleks Ag(CN)2- yang sangat stabil (Underwood, 1999).
Proses pembentukan dari garam rangkap terjadi apabila dua garam mengkristal bersama-sama dengan perbandingan molekul tertentu. Garam-garam itu memiliki struktur tersendiri dan tidak harus sama dengan struktur garam komponennya (Harjadi, 1993).


C.     ALAT DAN BAHAN
1.      Alat
a.       Timbangan analitik
b.      Pengaduk
c.       Gelas kimia 250 mL dan 50 mL
d.      Gelas ukur
e.       Pemanas listrik
f.       Pipet tetes
g.      Cawan penguapan
h.      Pipet volume
i.        Mortar

2.      Bahan
a.       Tembaga(II) sulfat
b.      Ammonium sulfat
c.       Aquades
d.      Es batu
e.       Kertas saring
f.       Ammonia pekat
g.      Methanol

D.    SKEMA KERJA
1.      Pembuatan garam rangkap tembaga(II)ammonium sulfat heksahidrat
0,04 mol CuSO4.5H2O
+ 0,04 mol (NH4)2SO4
+ 30 mL air
Diuapkan hingga 20 mL
Didinginkan dalam air es
Dibiarkan semalam
Hasil
Larutan didekantasi
Kristal
Dikeringkan pada kertas saring
Ditimbang
Hasil

2.      Pembuatan garam kompleks tetraamintembaga(II) sulfat monohidrat
7,5 mL NH3 pekat
+ 5 mL air
+ 7,03 gr CuSO4.5H2O yang digerus
+ 7,5 mL methanol
Larutan disimpan semalam
Hasil
Campuran diaduk
Kristal dibiarkan mengendap
Larutan didekantasi
Hasil


 

Hasil
Kristal disaring
Cawan dibilas dengan 0,83 mL NH3 15 M dan 0,83 mL methanol
Kristal
Dicuci dengan 1,67 mL methanol
Dikeringkan pada kertas saring
Ditimbang
Hasil


E.     HASIL PENGAMATAN
1.      Pembuatan garam rangkap tembaga(II) ammonium sulfat heksahidrat
No.
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1
CuSo4.5H2O dicampur dengan (NH4)2SO4 dan air
CuSO4.5H2O dan (NH4)2SO4 tidak larut
2
Larutan diuapkan
Semua padatan larut, warna larutan jadi biru tua, muncul asap putih
3
Larutan dimasukkan ke dalam air es
Larutan membeku, namun ada sebagian larutan yang tidak membeku
4
Larutan dibiarkan semalam
Warna kristal biru tua, warna larutan biru tua
5
Kristal dikeringkan dan ditimbang
Warna kristal jadi lebih muda, berat kristal 15,6 gram.

2.      Pembuatan garam kompleks tetraamin tembaga (II) sulfat monohidrat
No.
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1
Ammonia pekat ditambahkan air dan CuSO4.5H2O
Timbul panas pada larutan tersebut, warna biru keunguan
2
Larutan ditambahkan methanol
Warna larutan menjadi ungu, semakin lama diasuk menjadi biru tua pekat, larutannya kental.
3
Kristal disaring
Warna filtrate biru tua, warna endapan biru muda
4
Kristal dikeringkan
Terbentuk endapan hijau muda, bentuknya seperti bubuk, berat kristal 5,25 gram.

F.      ANALISIS DATA
1.      Persamaan reaksi
CuSO4.5H2O(s) + (NH4)2SO4(s) + H2O(l) → CuSO4(NH4)2SO4.6H2O(s)
CuSO4.5H2O(s) + 4NH3 → [Cu(NH3)4]SO4.H2O(s) + 4H2O(l)

2.      Perhitungan
a.       Pembuatan garam rangkap CuSO4(NH4)SO4.6H2O


CuSO4.5H2O
+
(NH4)2SO4
H2O →
CuSO4(NH4)2SO4.6H2O
Awal
0,04 mol

0,04 mol


Bereaksi
0,04 mol

0,04 mol

0,04 mol
Setimbang


0,04 mol

                        Massa CuSO4(NH4)2SO4.6H2O          = n x Mr
                                                                                    = 0,04 x 399,5
                                                                                    = 15,98 gram



b.      Pembuatan garam kompleks [Cu(NH3)4]SO4.H2O
Massa CuSO4.5H2O    = n x Mr
                                    = 0,028 x 249,5
                                    = 7,03 gram

Dari persamaan reaksi diketahui bahwa:
Mol CuSO45H2O        = mol [Cu(NH3)4]SO4.H2O
0,028               = mol [Cu(NH3)4]SO4.H2O

Massa mol [Cu(NH3)4]SO4.H2O         = n x Mr
                                                            = 0,028 x 245,5
                                                            = 6,29 gram



G.    PEMBAHASAN
Tembaga merupakan salah satu logam yang sangat penting, karena tembaga merupakn logam yang tidak mudah berkarat dan baik dalam menghantarkan listrik sehingga biasanya digunakan sebagai isi kabel. Pada praktikum ini dilakukan percobaan pembuatan garam kompleks dan garam rangkap  dari tembaga. Garam kompleks merupakan garam yang mengandung ion-ion kompleks, sedangkan garam rangkap adalah garam yang terbentuk dari dua garam yang mengkristal bersama-sama dalam perbandinganm molekul tertentu atau sama.
Pada percobaan yang pertama yakni pembuatan garam rangkap CuSO4(NH4)2SO4. 6H2O dengan mereaksikan 0,04 mol CuSO4.5H2O dengan 0,04 mol (NH4)SO4, dilakukan seperti ini agar sesuai dengan pengertian garam rangkap itu sendiri yakniu perbandingan molnya sama, yang kemudian garam ini dilarutkan dalam air menghasilkan larutan biru muda encer karena garam ini terurai menjadi ion-ion penyusunnya. Yang kemudian larutan ini dipansakan untuk menghilangkan molekul airnya sebagian  dan supaya pembentukan garam rangkap berjalan senpurna sebab untuk membuat garam rangkap dibutuhkan energi,energinya ini berasal dari pemanasan ini. Yang kemudian untuk membuta larutan ini menjadi kristal padat maka larutan garam rangkap ini dimasukkan langsung kedalam air yang berisi es batu sehingga fasenya berubah menjadi padat dan pembentukan kristalnya dimulai dari tengah yang mana ini merupakan pusat pembentukan kristal yang setelah kering kristal yang didapat adalah 15,6 gr yang setelah dihititung didapat %rendamennya sebesar 97,74 % ini menunjukkan keberhasilan dalm praktikum.
Sedangkan pada percobaan yang kedua yakni pembuatan garam kompleks dengan mereaksikan CuSO4.H2O yang direaksikan dengan amonia yang sudah dicampur dengan air yang mana setelah reaksi ini warna berubah menjadi lebih pekat lagi yakni biru tua karna terjadi pendesakan ligan amonia oleh air yang reaksinya
[Cu(H2O)6]2+ + 5NH2                                               [Cu(NH3)(5-4)]2+ + 5H2O
 Pada reaksi ini tembaganya bermuatan +2, sedangkan digunakan amonia karena dapat membentuk ligan-ligan yang dapat membentuk ion komp[leks dengan Cu (Ramlawati,2005). Selanjutnya garam ini ditambahkan etanol untuk mencegah penguapan amonia, karena bila amonia menguap maka ligan akan habis sebab amonia merupakan pensuplai ligan. Setelah itu agar kristal tebentuk maka didiamkan semalaman  dan setelah kristal terbentuk dicuci dengan alkohol untuk mengikat air yang ada pada kristalyang kemudian dikeringkan dan ditimbang.
H.     KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan, analisis data dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa:
1.      Untuk membuat garam rangkap maka perbandingan mol kedua garam pembentuknya harus sama
2.      Garam kompleks ditandai dengan adanya ligan-ligan pada senyawa tersebut
3.      Amonia merupakan pelarut yang baik untuk membuat garam kompleks sebab dapat dapat berikatan dan membentuk ligan dengan logam
4.      Penambahan alkohol dilkukan untuk mencegah amonia menguap
5.      Berat kriostal garam kompleks adalah 5,25 gram sedangkan garam rangkap 15,6 gram

DAFTAR PUSTAKA
Cotton dan Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta : Erlangga
 Harjadi. 1993. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: Gramedia.
Ramlawati. 2005. Kimia Anorganik . Bandung : ITB
Underwood, A.L dan Day, R.A. 1999. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar